Banyak Orang yang Bisa Bilang Cinta, Tapi Sedikit yang Mampu Setia


Manusia tercipta dengan kebutuhannya akan cinta. Sejak Nabi Adam diciptakan sebagai manusia pertama sekalipun, ia sudah membawa sifat mendasar: ia tidak sempurna tanpa cinta sang Hawa. Begitu pula kita keturunannya. Hakikinya, kebutuhan akan cinta dari pasangan adalah kebutuhan yang mendasari kesempurnaan kita sebagai manusia. Sayangnya, kata cinta tidak selalu datang sepaket dengan kata setia.
Banyak orang bisa bilang cinta. Banyak orang mengaku bisa berkomitmen atas nama cinta. Tapi buktinya, hanya sedikit yang mampu untuk setia. Bicara soal statistik, di tahun 2014 saja, terjadi 40 peceraian setiap jamnya di Indonesia. Jika kita bicara dalam scope yang lebih kecil, 90% perceraian terjadi karena dasar perselingkuhan dimana 90% nya karena perselingkuhan suami dan 10% karena perselingkuhan istri (berdasarkan data dari Humas Pengadilan Agama Kota Makassar Anas Malik MH kepada Tribun Timur).
Di bagian-bagian lain Indonesia saya rasa juga tidak akan banyak perbedaan. Perpisahan dua insan yang sudah diikat oleh perkawinan yang sakral dan suci dirusak hanya karena dasar ketidaksetiaan. Ini sudah diikat ritual perkawinan sakral agama loh. Bagaimana dengan hubungan yang cuma diikat dengan janji dan rasa percaya (pacaran)?

WAJARKAH KALAU KITA CURIGA?

wajarkah kita curiga segiempatJadi apakah salah kalau kita was-was karena kenyataan ini? Apakah tidak normal kalau kita selalu berusaha memastikan pacar kita masih menepati janji setianya? Karena jujur aja, kata “percaya” saat ini sudah tidak lagi cukup. Kalau mereka yang sudah saling mempercayakan nyawa lewat perkawinan saja masih bisa terguncang perselingkuhan, rasanya kata “percaya” saja sudah tidak cukup untuk dijadikan dasar sebuah hubungan pacaran.
Saya pribadi sudah melewati 4 hubungan percintaan sampai sekarang menginjak usia 21. Di tiga hubungan pertama (yang semuanya terjadi waktu SMA), saya tidak pernah pacaran lebih dari 3 bulan. Mirisnya, saya selalu aja jadi pihak yang diputuskan. Alasannya sama; saya terlalu posesif, kata mantan-mantan saya.
Saya dibesarkan di keluarga yang tidak “komplit”, atau bahasa kerennya bisa dibilang “broken home”. Orangtua saya bercerai ketika saya berumur 7 tahun (dan lagi-lagi karena perselingkuhan). Wajar aja kalau saya tumbuh dengan rasa was-was terhadap janji-janji cowok. Tapi ini juga tidak pernah membuat saya melangkah lebih jauh daripada sekedar mengecek sms dan chat di hp pacar saya.
Rasanya definisi “posesif” buat cowok itu agaknya berbeda dengan definisi kita sebagai cewek. Menurut mereka, mengecek sms dan chat di hp pacar itu sudah sifat posesif. Salah satu mantan saya bahkan pernah memakai kata “obsesif” ke saya. Okelah, saya terima aja diputuskan. Tapi setelah diputuskan 3 kali dengan tuduhan yang sama, akhirnya dengan pacar saya yang keempat, saya coba membangun hubungan dengan fondasi kata percaya saja.
Tapi apa jadinya? Hubungan keempat saya yang berjalan 2 tahun dengan modal percaya itu harus hancur lebur karena mantan saya selingkuh, dengan teman dekat saya pula.
Ini membuat saya berpikir:
Apa lagi yang bisa menjadi dasar hubungan cinta dengan cowok, kalau kata “percaya” dengan mudahnya bisa dikhianati dan sikap was-was langsung divonis dengan kata “posesif”?
Saat ini saya udah 3 tahun menjomblo dan masih merasa lebih baik seperti ini untuk beberapa tahun kedepannya sampai jawaban dari pertanyaan di atas saya temukan. Kalau memang saya diciptakan dari tulang rusuk seorang pria, artinya saat ini saya tidak lebih dari tulang rusuk yang terlantar. Saya cuma bisa berharap kepada Tuhan, semoga sang pemilik tulang rusuk segera menemukan saya, dan semoga ia memiliki cinta dan kesetiaan sebesar cinta dan kesetiaan Adam kepada Hawa….

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »
Load comments